Laktasi

Dengan maraknya berita tercemarnya susu formula yang beredar di Indonesia dengan bakteri yang membahayakan, banyak pihak kini kian gencar mengkampanyekan program ASI ekslusif. ASI ekslusif sendiri menurut Departemen Kesehatan adalah pemberian Air Susu Ibu tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Sebenarnya jauh sebelum isu susu formula tsb marak diberitakan, ASI sudah menjadi makanan terbaik bagi bayi dan tidak bisa digantikan oleh susu sapi karena komposisi gizinya yang berbeda. Hanya saja, seiring perkembangan zaman tidak sedikit ibu yang mengeluh, entah karena ASInya sedikit atau tidak keluar, sehingga lebih memilih susu formula untuk diberikan kepada bayinya. Wied Harry Apriadji (seorang pakar gizi) dalam bukunya yang berjudul Variasi Makanan Sehat Bayi mengatakan bahwa ASI macet atau jumlah yang sedikit bukan alasan untuk beralih ke susu formula dan manajemen laktasilah yang lebih sering menjadi penyebabnya, khususnya karena pola makan yang kurang baik selama hamil dan keengganan atau ketidaksiapan untuk menyusui. Padahal setiap mamalia dimuka bumi ini setelah melahirkan telah dianugrahi ASI, dan adalah hak setiap bayi untuk diberi ASI. Namun jika terpaksa harus didampingi susu formula hendaknya pemberian ASI tetap dipertahankan agar lebih dominan. Disarankan pula oleh beberapa rumah sakit agar  sejak beberapa bulan menjelang melahirkan, melakukan perawatan payudara untuk memperlancar ASI khususnya pada hari-hari pertama setelah melahirkan.

Sekedar berbagi pengalaman, sesaat setelah melahirkan, saya sempat sedih karena ASI belum keluar. Bahkan dalam satu minggu pertama, ASI yang keluarpun tergolong sangat sedikit. Saat sempat meminta suplemen untuk menambah ASI pada dokter, namun dokter berpendapat tidak perlu. Cukup dengan banyak mengkonsumsi sayuran hijau dan senantiasa berkeyakinan bahwa kondisi menyusui saya baik-baik saja. Saat menanyakan ke dokter anak perihal cukup atau tidaknya ASI yang sudah saya berikan ke bayi dalam satu bulan pertama, dia mengatakan bahwa yang paling penting saat penyusui adalah rasa percaya diri. Jika ragu-ragu dan menambahkan susu formula, dikhawatirkan kuantitas pemberian ASI kepada bayi akan berkurang dan kalah dengan jumlah susu formula yang diberikan. Padahal tidak perlu diragukan lagi, ASI adalah makanan tunggal yang paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. Bidan-bidan di rumah sakit tsb juga tidak kalah menyemangati, mereka mengatakan bahwa ASI pasti keluar, asalkan kualitas dan kuantitas makanan si ibu cukup dan tidak dirundung stres.

Selain ekonomis (karena gratis) beberapa keuntungan pemberian ASI jika dilihat dari kandungan gizinya antara lain:
– mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi seperti AA, DHA, Taurin dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi
– mudah dicerna karena mengandung enzim cerna ASI
– mencegah kegemukan karena mampu meminimalkan timbunan lemak tubuh
– mengandung antibody untuk meningkatkan kekebalan tubuh
– memperkecil kemungkinan sembelit, diare, masuk angin
Sedangkan untuk si ibu, pemberian ASI bermanfaat untuk:
– mengurangi resiko kanker indung telur dan kanker payudara
– mengurangi pendarahan setelah persalinan
– mempercepat penciutan rahim
– mencegah kehamilan jika menyusui dilakukan terus menerus selama minimal 6 bulan

Untuk ibu bekerja, disarankan tetap memberikan ASI melalui proses memerah di tempat bekerja. Memerah ASI dapat dilakukan dengan tangan (namun hal ini memerlukan keterampilan dan kesabaran lebih) ataupun dengan bantuan pompa (manual/elektrik) dan tidak disarankan menggunakan alat yang berbentuk terompet karena dikhawatirkan menjadi tempat tumbuhnya bakteri karena tidak mudah dibersihkan. Saat memerah ASI sebaiknya ibu berada dalam ruangan yang bersih dengan tangan yang telah dicuci bersih, serta terlebih dahulu mengoleskan sedikit asinya ke seluruh puting dan aerola (daerah berkulit gelap sekitar puting) untuk mematikan kuman-kuman didaerah tsb. Masa penyimpanan ASI hasil perah tersebut bervariasi. Versi Wied Harry Apriadji, pada suhu kamar hanya bertahan 3-4 jam, dalam termos es batu 24 jam, lemari es 48 jam, dan freezer 3 bulan. Menurut paramedis di RS Hermina, ASI pada suhu ruangan dapat bertahan hingga 6 jam dan dalam lemari es 24 jam. Saat akan diberikan pada bayi, ASI dapat direndam terlebih dahulu dalam air hangat (jangan dimasak karena akan merusak gizi yang terkandung dalam ASI), dan jika tersimpan di freezer dapat dipindahkan terlebih dahulu di lemari es agar mencair. Namun ada juga dokter yang berpendapat sebaiknya ASI tidak perlu direndam dalam air hangat namun cukup didiamkan pada suhu kamar hingga tidak dingin lagi. ASI yang telah keluar dari tempat pendingin tsb sebaiknya segera dikonsumsi dalam 2 jam, dan jika terdapat sisa sebaiknya dibuang agar terhindar dari resiko diare. Jangan lupa alat pompa dan botol penadah ASI disterilkan (dapat direbus atau menggunakan steamer sterilisasi) setiap kali selesai digunakan.

Untuk meningkatkan jumlah produksi ASI, Wied Harry menjelaskan bahwa tidak hanya daun katuk yang perlu banyak dikonsumsi. Sebenarnya berbagai sayuran berwarna hijau dan jingga, sayuran tak berwarna seperti toge, sawi putih serta sumber protein hewani dan nabati seperti tempe, ikan, kacang hijau dan kacang merah juga memiliki manfaat yang sama. Baik juga bagi ibu menyusui untuk mengkonsumsi buah-buahan segar, dan jangan lupa minum setidaknya 8 gelas sehari, terutama setiap kali setelah selesai menyusui untuk mengganti cairan yang keluar.

Satu lagi pernyataan kontroversial mengenai susu yg saya dengar di metro tv pada acara Healthy Life tanggal 5 Maret lalu. seorang pengamat gizi yg diundang (saya lupa namanya) mengatakan bahwa mulai umur 2 tahun manusia dianugrahi gigi lengkap, yang artinya sudah tidak perlu lg minum susu (meninggalkan makanan cair dan beralih ke makanan padat). dogma 4 sehat 5 sempurna dianggap sudah tidak sesuai lagi dan selayaknya segera dihapus dari semua buku pelajaran saat ini. pemerintah seharusnya mulai mensosialisasikan program “gizi seimbang” kepada masyarakat, sehingga polemik susu formula inipun bisa segera diakhiri karena toh anak dibawah 2 tahun masih bisa minum ASI (plus makanan pendamping setelah 6 bulan tentunya) dan setelahnya bisa mengganti susu dengan makanan bergizi lainnya. barangkali jika pemerintah “berani” membuat pernyataan senada, keresahan yg saat ini dirasakan masyarakat dapat berpindah ke para produsen susu.. saya rasa itu lebih baik.

Published in: on February 28, 2008 at 3:42 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://sistadanarif.wordpress.com/2008/02/28/laktasi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. Hello, you post interesting articles on your blog, you can get much more
    visitors, just type in google for – augo’s tube traffic


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: